Q

Anonymous asked:

Halo Pute nice to know you are here.. hehe..

A

halo juga, nice to know too that i can be here. freely.

is family just a blood business?

siang ini aku deeptalk sama suami, itu pun gak disengaja. dia lagi break wfh, dan aku lagi belajar istilah-istilah dalam keuangan sampai tiba-tiba, randomly, aku inget masa lalu aku, dan aku cerita tentang sexual abuse yang pernah aku alamin dan tiba-tiba nyambung ke how my family treated me back then.

waktu itu aku kabur dari rumah karena mikir: mungkin semuanya bakal baik-baik aja kalo aku gak di rumah, bahkan mungkin semuanya bakal baik-baik aja kalo dari awal aku gak lahir.

i was kinda having suicidal thoughts but my husband (still boyfriend at the time) existed and he supported me for everything. dia gak pernah bujuk aku buat ngelakuin hal-hal negatif, termasuk kabur dari rumah, jadi pembangkang (because i was already rebel before i met him), atau apapun itu. keputusan aku semua adalah murni keputusan aku sendiri. jadi, suicidal thoughts itu alhamdulillah gak pernah kesampaian, tapi aku tetep menghilang dengan kabur.

waktu bapak meninggal, aku depresi. aku sudah bisa maafin bapak tapi bapak gak pernah sempat maafin aku, dan keluarga juga menyalahkan aku atas kematian bapak. kakakku nangis sesenggukan seolah dia adalah anak yang paling kehilangan.

aku adalah anak yang jarang menunjukkan emosi aku ke orang rumah, bahkan cenderung menutup diri. karena waktu aku menunjukkan emosi aku, orang rumah bakal marah, kesel, atau bahkan bilang, “gak usah deh sok-sokan menghakimi diri sendiri. kalau salah ya salah aja, gak usah cari empati.” waktu aku ngadu bahwa ada yang abuse aku, aku malah dibilang murahan, padahal aku kira orang itu bisa dihukum, padahal aku kira keluarga aku bakal tolong aku.

kabar negatif tentang aku (yang gak benar) terdengar bahkan ke seluruh keluarga besar. aku bahkan pernah difitnah nikah siri sama kakak sendiri, dan apapun yang aku lakuin adalah salah dan kekanak-kanakan.

aku tanya suami, “wajar gak sih kalau aku kabur dari rumah? atau aku emang sebenernya salah?”

suami aku orang yang subjektif. kalau aku salah, dia pasti bilang aku salah, begitupun kalau aku bertindak terlalu jauh tentang sesuatu, entah itu tentang keluarganya, atau tentang keluarga aku. dan dia jawab, “kalau aku jadi kamu, kayaknya aku udah bunuh diri sih.”

waktu itu mereka gak pernah cari aku.

rasanya aku kepingin cut off diri sendiri.

i take a look back, apa yang sebenernya aku lakuin sampai keluarga aku sendiri memperlakukan aku kayak gitu. apa ada dendam? apa mereka marah tentang sesuatu yang aku lupa? but instead i found that they treated me badly even when i was a little kid.

waktu itu, kalau gak salah aku masih kelas 3 SD. keluarga aku masih rutin lebaran bareng sama keluarganya temen mamaku. kami berangkat ke sumedang, bapak waktu itu punya mobil VW kombi. aku di kursi tengah, duduk sama 2 kakakku. waktu itu karena aku masih kecil, aku gak bisa diem, cicirihilan, istilahnya kalau dalam bahasa sunda. yah, anak-anak yang lagi seneng banget karena diajak jalan-jalan pada umumnya lah, ya. waktu kami sampai di sana, orangtuaku turun duluan. sambil cari sepatu, tanganku ditarik kakakku dan aku dibentak, “kamu centil banget, sih! bisa diem gak?!” aku lupa setelah itu kejadiannya apa atau respon aku apa. tapi hal-hal kayak gitu dan sejenisnya masih aku inget sampai sekarang karena berbekas.

mungkin aku yang salah. karena usia kami terpaut sangat jauh, (bahkan dari kakak terakhirku, beda usia kami 11 tahun), mungkin mereka gak nyangka bakal punya adik baru. mungkin sebelum si “adik baru” muncul, mereka sudah sempurna dan bahagia. mungkin aku mengacaukan semuanya.

aku gak pernah minta dilahirkan, tapi kalau bisa balik lagi ke jaman dulu, aku berharap banget mamaku menggugurkan aku waktu dulu. maaf karena aku mengacaukan semuanya.

my family is better off without me.

manusia itu lucu.

“kamu kok sukanya yang begitu? nih, suka tuh yang begini, ini lebih bermanfaat!”

“kamu kok belajar dari orang kayak gitu? nih, orang-orang yang menginspirasi aku, resapi hidup mereka supaya hidup kamu bermanfaat kayak aku!”

“aduh, baru menguasai hal-hal kayak gitu aja kamu udah ngerasa hebat? nih, aku tuh belajar x dan udah sampai tahap x. berkembang banget, loh!”

“kamu kok hidupnya kayak begitu? liat dong hidup aku dan teman-teman di sekitar aku, kami produktif dan positif!”

“kamu kok berubah? gak kayak dulu!” (err… do you even know me?)

“aku itu dari dulu suka baca buku, sampai jamannya pdf, ebook, dan serba digital pun aku tetap suka buku. apalagi buku tentang character development, makanya aku berkembang dan orang-orang yang suka baca buku gak berkembang!”

hal-hal di atas normal karena sifat superior manusia adalah hal yang wajar dan umum, jangan salahkan mereka, salahkan diri sendiri yang merespon. seharusnya hal-hal seperti itu gak usah direspon. merasa bahagia dalam dunia sendiri saja sudah cukup, asal tidak menyakiti orang lain. biarkan mereka memakan egonya sendiri sampai kenyang, kalau mereka makan terlalu banyak juga nantinya akan muntah sendiri.

just believe in universe.

a great man have married me.

i dated a man from 2012 to 2015, and it went so good that i was always cry to sleep because of happiness. i was so, so, so happy, but i ruined it by cheating to some other boy who i found unique and rare. i was an evil to break his heart and i was sorry. we broke up. a years later we met again and we got back together but it didn’t work like before because everything has changed.


he has changed, so have i.


after we broke up again, i felt like i coudln’t trust myself enough to make anyone trust me, love me, like me, or at least happy. so i went like “i will never get married.”


but then i met this man.

he was being so nice and calm, a little bit gloomy, misterious but he told me things he never told to anyone even his ex-girlfriend he dated for 9 years. it felt like, we had a common in family business. he was always alone and sometimes lonely, yet he enjoyed his loneliness, like i was.


we have this thing, our loneliness that we can enjoy together, and so we clicked.


three years later, he married me. he lost his parents when he married me but his mom was a great friend i could ever have, she trusted her family with me, so now i’m taking care of him, and his brother and sister. i never had a chance to meet his father since he passed away when my husband was 17th.


in our weddings, we just could invite some people due to covid-19, it was family-only. i told two of my friends, the rest was abstained and is now. but i don’t mind since i used to be invisible to everyone, even to people who used to be my close friend.


he doesn’t have lots of friend too. we just have each other to be best friend and family. it’s not like a happy ending, despite of my dark journeys and hells i didn’t mention in this story, but now that i’m with him, i’m so grateful. i cherish all the things happened, and the new life. i love him.

Hey, paper drop. I am back. You were right about everything will fall into places and everyone will go back to where they came.

#september #learned #iammyhome

I’m a witch, darling, let’s say that. Beware of me. I can turn you to be a poem.

When you try to tell someone a whole story of things in your life, just see what kind of point they see. Because their perception of you is what they think about who you are.

- my friend’s point of view is not that good.

How I deal with jealousy:

be aware that everything is not mine.

Learn something again today–about myself.

Even when I’m mad at ignorant people who keep asking about things, I still feel pity for their ignorance. And I’ll ended up by helping them looking for the answers or things they don’t understand.

Since I’ve ever been in their situation, once. And it doesn’t feel right to be in the position where I don’t know or understand. I felt so dumb and stupid.

The way stupidity gets me mad, is also gets my sorry.

I feel sorry for their lack of the flaw that common people (including me) have.